Selasa, 28 Oktober 2014

Indonesia Hebat.


Bukan berarti saya akan menganaktirikan para tetua. Bukan berarti saya akan membuat diri mereka tersisih. Namun, saya hanya memanfaatkan filosofi sejarawan yang cerdas yang pernah memimpin Indonesia. Ir. Soekarno. Dimana beliau hanya membutuhkan 10 seorang pemuda dan akan mengguncang dunia. Begitupu saya, bukan berarti saya hanya membutuhkan 10 pemuda dan akan saya guncang dunia. Tidak. Saya tau siapa saya dan seberapa kemampuan diri saya. Saya hanya ingin mencari, melihat dan menyimpulkan sisi lain dari Bangsa Indonesia. Terutama di pulau Jawa ini. dimana hal ini akan saya dapatkan dari observasi-observasi langsung maupun secara tidak langsung. Saya hanya ingin terlibat langsung dan kemudian merasakan menjadi mereka. Karena saya juga tau, saya juga bagian dari mereka dari belahan bumi yang berbeda.
Pemuda Indonesia, pemuda yang berbakat dan hebat. Itulah sebenarnya kata yang tepat bagi Negara berkembang Indonesia tercinta ini. Ide ini bermula dari percakapan saya dengan teman yang baru kenal saat pendaakian ke Gunung Lawu. Sesama cucu Ahmad Dahlan, saya merasa kami telah terdidik dan besar di bawah atap yang sama. Kemudian sesama anggota Mahasiswa Pecinta Alam pula. Pemikira-pemikiran dan karakter yang khas kami miliki, tentunya akan kami temui sebuah pemikiran yang sama pula. Ditambah lagi hobby membaca dan menulis. Perbedaannya, saya terlahir dari Ahmad Dahlan yang sepi. Kota Ponorogo nan sepi dan damai. Sebuah kota yang sedang berkembang dengan memiliki jumlah TKW yang sangat besar di Jawa Timur. Sebuah kota yang menerbitkan buku nikah terbanyak setelah adanya kehamilan, dan menerbitkan surat cerai terbesar setiap tahunnya dengan kasus dengan latar belakang TKW. Sedangkan kedua teman saya merupakan cucu Ahmad Dahlan yang terlahir di Surakarta dan Yogyakarta. Keduanya merupakan kota pelajar dan kota Budaya yang tentunya memiliki kontribusi besar terhadap Negara kita tercinta ini. sebagai mahasiswa yang telah belajar dan menghabiskan masa remaja di kota besar, tentunya memiliki lebih banyak fasilitas untuk mengembangkan ilmu pengetahuannya. Apalagi keduanya pernah menjabat sebagai Ketua Umum di MPA masing-masing mereka mencari ilmu. Secara otomatis dari sisi ini saya harus banyak belajar dari mereka. HARUS.
Tapi ada hal yang perlu diketahui, bahwa tidak semua mata melihat sebuah obyek dari sudut yang sama. Tidak semua fikiran menerima hasil kerja mata dan kemudian merefleksikannya ke dalam otak dengan sudut pandang yang sama. Terkadang dari sebuah balok seseorang kan melihat bagian depannya saja, atau samping atau belakang saja. Namun ada juga yang akan melihatnya dari semua sisi secara 3 dimensi. Dan ini akan menghasilkan sudut pandang secara obyektif dan lebih meluas. Sayangnya hal seperti ini sangat sulit ditemui. Tidak mudah. Begitupun saya, yang tidak akan bisa melihat sisi Indonesia dari berbagai sudut. Dan saat ini saya akan memaparkan sisi Indonesia dari sudut pemuda-pemudanya. Bahwa Indonesia itu sebenarnya hebat dan cerdas. Bahwa bukanlah suatu Negara berkembang yang hanya bisa dicaci dan diremehkan oleh Negara tetangga. Yang warganya tidak bangga dan tidak mau menjunjung tinggi harkat martabatnya. Yang hanya melihat kekayaan alamnya dan kemudian tetap mencaci karena belum becusnya pemimpin dalam memimpin Negara dengan baik. Yang memiliki ambisi kuat melihat Negara sebelah dengan segala metode pendidikannya dan kemudian tidak memberikan solusi positif bagi Negara. Bahwa kita ini juga masyarakat, dimana kita juga belum tentu bisa menjadi pemimpin yang diharapkan. Menjadi khalifah di Negara ini sehingga membawa dampak positif terhadap kemajuan dan kemerdekaan haqiqi Negara. 
Ide untuk berkeliling Negara ini dan menuliskannya dalam sebuah buku. Tulisan tentang kehebatan dan kecerdasan pemuda Indonesia yang sangat membutuhkan pendampingan dan bibmbingan para pemimpin yang telah lebih dahulu mendapatkan pendidikan secara layak. Saya sangat ingin melihat apa yang sebenarnya mereka fikirkan untuk Bangsa ini. ingin melihat apa sebenarnya yang mereka butuhkan untuk terciptanya cita-cita Negara yang aman dan makmur. Dimana saya sering melihat kreatifitasan para pemuda yang sangat cerdas namun tidak terakomodi dengan baik, dan kemudian hilang secara sia-sia. Dimana mereka ingin berkarya tapi tidak ada tempat, mereka ingin belajar tapi tidak ada biaya, sekolah gratis yang digadang-gadang pemerintahpun tidak mampu meloloskan mereka dalam pendidikan yang layak dan patut. Kemudian timbul pengangguran-pengangguran dari kalangan non pendiidkan sampai ke pendidikan yang sangat tinggi. Dan masih banyak sekali PR Bangsa ini yang harus digarap. Dan ini bukan PR bagi para pejabat saja, bagi untuk kita semua. Ingat, Negara ini tidak butuh warga yang pinter berdiskusi di atas meja tapi tidak mau tahu keadaan luar, namun Negara ini butuh tindakan cepat. Melalui hal-hal kecil, sepele tapi sangat dahsyat hasilnya.
21 Agustus 2014
Padangan, Kamar Kost

----CL----