Bukan
berarti saya akan menganaktirikan para tetua. Bukan berarti saya akan membuat
diri mereka tersisih. Namun, saya hanya memanfaatkan filosofi sejarawan yang
cerdas yang pernah memimpin Indonesia. Ir. Soekarno. Dimana beliau hanya membutuhkan
10 seorang pemuda dan akan mengguncang dunia. Begitupu saya, bukan berarti saya
hanya membutuhkan 10 pemuda dan akan saya guncang dunia. Tidak. Saya tau siapa
saya dan seberapa kemampuan diri saya. Saya hanya ingin mencari, melihat dan
menyimpulkan sisi lain dari Bangsa Indonesia. Terutama di pulau Jawa ini.
dimana hal ini akan saya dapatkan dari observasi-observasi langsung maupun
secara tidak langsung. Saya hanya ingin terlibat langsung dan kemudian
merasakan menjadi mereka. Karena saya juga tau, saya juga bagian dari mereka
dari belahan bumi yang berbeda.
Pemuda
Indonesia, pemuda yang berbakat dan hebat. Itulah sebenarnya kata yang tepat
bagi Negara berkembang Indonesia tercinta ini. Ide ini bermula dari percakapan
saya dengan teman yang baru kenal saat pendaakian ke Gunung Lawu. Sesama cucu
Ahmad Dahlan, saya merasa kami telah terdidik dan besar di bawah atap yang
sama. Kemudian sesama anggota Mahasiswa Pecinta Alam pula. Pemikira-pemikiran
dan karakter yang khas kami miliki, tentunya akan kami temui sebuah pemikiran
yang sama pula. Ditambah lagi hobby membaca dan menulis. Perbedaannya, saya
terlahir dari Ahmad Dahlan yang sepi. Kota Ponorogo nan sepi dan damai. Sebuah
kota yang sedang berkembang dengan memiliki jumlah TKW yang sangat besar di Jawa
Timur. Sebuah kota yang menerbitkan buku nikah terbanyak setelah adanya
kehamilan, dan menerbitkan surat cerai terbesar setiap tahunnya dengan kasus
dengan latar belakang TKW. Sedangkan kedua teman saya merupakan cucu Ahmad
Dahlan yang terlahir di Surakarta dan Yogyakarta. Keduanya merupakan kota
pelajar dan kota Budaya yang tentunya memiliki kontribusi besar terhadap
Negara kita tercinta ini. sebagai mahasiswa yang telah belajar dan menghabiskan
masa remaja di kota besar, tentunya memiliki lebih banyak fasilitas untuk
mengembangkan ilmu pengetahuannya. Apalagi keduanya pernah menjabat sebagai
Ketua Umum di MPA masing-masing mereka mencari ilmu. Secara otomatis dari sisi
ini saya harus banyak belajar dari mereka. HARUS.
Tapi
ada hal yang perlu diketahui, bahwa tidak semua mata melihat sebuah obyek dari
sudut yang sama. Tidak semua fikiran menerima hasil kerja mata dan kemudian
merefleksikannya ke dalam otak dengan sudut pandang yang sama. Terkadang dari
sebuah balok seseorang kan melihat bagian depannya saja, atau samping atau
belakang saja. Namun ada juga yang akan melihatnya dari semua sisi secara 3
dimensi. Dan ini akan menghasilkan sudut pandang secara obyektif dan lebih
meluas. Sayangnya hal seperti ini sangat sulit ditemui. Tidak mudah. Begitupun
saya, yang tidak akan bisa melihat sisi Indonesia dari berbagai sudut. Dan saat
ini saya akan memaparkan sisi Indonesia dari sudut pemuda-pemudanya. Bahwa
Indonesia itu sebenarnya hebat dan cerdas. Bahwa bukanlah suatu Negara
berkembang yang hanya bisa dicaci dan diremehkan oleh Negara tetangga. Yang
warganya tidak bangga dan tidak mau menjunjung tinggi harkat martabatnya. Yang hanya melihat kekayaan alamnya dan kemudian tetap
mencaci karena belum becusnya pemimpin dalam memimpin Negara dengan baik. Yang memiliki
ambisi kuat melihat Negara sebelah dengan segala metode pendidikannya dan
kemudian tidak memberikan solusi positif bagi Negara. Bahwa kita ini juga
masyarakat, dimana kita juga belum tentu bisa menjadi pemimpin yang diharapkan.
Menjadi khalifah di Negara ini sehingga membawa dampak positif terhadap
kemajuan dan kemerdekaan haqiqi Negara.
Ide
untuk berkeliling Negara ini dan menuliskannya dalam sebuah buku. Tulisan
tentang kehebatan dan kecerdasan pemuda Indonesia yang sangat membutuhkan
pendampingan dan bibmbingan para pemimpin yang telah lebih dahulu mendapatkan
pendidikan secara layak. Saya sangat ingin melihat apa yang sebenarnya mereka
fikirkan untuk Bangsa ini. ingin melihat apa sebenarnya yang mereka butuhkan
untuk terciptanya cita-cita Negara yang aman dan makmur. Dimana saya sering
melihat kreatifitasan para pemuda yang sangat cerdas namun tidak terakomodi dengan baik, dan kemudian hilang secara sia-sia. Dimana mereka ingin berkarya
tapi tidak ada tempat, mereka ingin belajar tapi tidak ada biaya, sekolah
gratis yang digadang-gadang pemerintahpun tidak mampu meloloskan mereka dalam
pendidikan yang layak dan patut. Kemudian timbul pengangguran-pengangguran dari
kalangan non pendiidkan sampai ke pendidikan yang sangat tinggi. Dan masih
banyak sekali PR Bangsa ini yang harus digarap. Dan ini bukan PR bagi para
pejabat saja, bagi untuk kita semua. Ingat, Negara ini tidak butuh warga yang
pinter berdiskusi di atas meja tapi tidak mau tahu keadaan luar, namun Negara
ini butuh tindakan cepat. Melalui hal-hal kecil, sepele tapi sangat dahsyat
hasilnya.
21
Agustus 2014
Padangan,
Kamar Kost
----CL----