Menurut
saya hubungan yang paling kompleks adalah hubungan antara laki-laki dan
perempuan. Bukan mereka sebagai saudara atau sebagai ayah atau ibu. Namun hubungan
kompleks tersebut adalah hubungan yang memang melibatkan lebih banyak perasaan
dan otoritasi akal sehat. Mengapa hal ini saya anggap paling kompleks ?
Alasannya sangat sederhana saja, karena mereka itu adalah dua insan yang tidak
saling mengenal dan kemudian bertemu, saling tertarik, saling mengungkap saling
berbagi dan bahkan saling mencakar kemudian. Peran perasaan sangat luar biasa
hebatnya sehingga mampu merubah seseorang yang awalnya bukan apa-apa menjadi
apa-apa dan bukan siapa-siapa menjadi siapa-siapa. Berbeda dengan hubungan
keluarga atau pertemanan yang mungkin tidak begitu dahsyatnya mempengaruhi diri
sendiri dan mungkin semuanya akan berjalan flat saja. Dan bahkan tanpa memiliki
rasa emosional tinggi sehingga semua berjalan berdasarkan hak dan kewajiban
saja. Namun ini hanya sebagian saja, tetap saja ada banyak keluarga yang tetap
menomor satukan rasa emosional dalam hubungan sehari-hari namun tetap tidak
sedahsyat dengan hubungan lawan jenis.
Katakanlah
seorang anak yang memberi syarat kepada Ayahnya untuk membelikan sepeda baru
jika dia mampu mendapatkan juara pertama di kelasnya. Atau seorang adik yang
berjanji kepada kakaknya untuk tidak bilang ke Ayahnya saat Kakaknya sedang
bolos sekolah asal si adik dibelikan jajan. Semua masih tentang syarat. Namun
bagaimana dengan hubungan tanpa syarat ? Sebuah hubungan yang kata “mereka”
adalah cinta. Dimana kata “mereka” juga adalah sebuah perasaan saling tertarik
dan kemudian mampu memberikan segala bentuk pengorbanan tanpa meminta kembalian
atau meminta suatu balasan. Saya sendiri tidak pernah bahkan belum memahami apa
arti cinta yang sesungguhnya. Ini bukan karena saya adalah orang-orang yang
juga menentang sebuah hubungan cinta antara laki-laki dan perempuan. Saya
adalah wanita normal yang juga memiliki rasa tertarik dengan lawan jenis. Dan
berdasarkan pengalaman pribadi maupun berdasarkan observasi saya terhadap
lingkungan sekitar, satu kata yang memiliki sejuta kekuatan ini hanya dimiliki
oleh mereka yang masih berada di usia remaja. Bukan berarti mereka yang dewasa
tidak. Namun konteks cinta bagi orang dewasa adalah lebih luas, tidak
sesederhana dengan apa yang kita saksikan di drama korea masa kini atau di film
india dengan nangis bumbai di masa lalu.
Semakin
dewasa komplkesitas hubungan laki-laki dan perempuan akan semakin lebih tinggi
lagi. Jika memang cinta terhadap pasangan dianggap memiliki kekuatan dahsyat
dan memang tanpa syarat. Namun bagaimana dengan perceraian ? bagaimana dengan
sikap saling mencakar bagi sepasang merpati ? Mengapa harus ada perseliingkuhan
? mengapa harus ada rasa kejenuhan ? Oke well, menurut saya disini bukan cinta
yang menjadi masalah. Namun faktor X dan X lainnya yang pasti menjadi penunjang
terjadinya hal-hal demikian.
Kembali
ke judul tentang otoritas laki-laki sebagai seorang pemimpin atau seorang yang
kuat. Saya sendiri kurang begitu memahami tentang paham HAM dalam persepektif
laki-laki dan perempuan yang pada akhirnya akan melahirkan sebuah paham
persamaan gender. Saya bukan orang yang agamis. Pengetahuan saya tehadap agama
juga sangat cetek sebenarnya. Namun saya menulis ini karena saya ingin
mengetahui lebih banyak apa opini orang lain. Di satu sisi pada saat ini saya
memiliki opini sedemikian rupa yang kemudian masih akan saya pegang sampai
betul-betul meyakini sesuatu tersebut dan akan menjadi prinsip saya.
Seperti
yang telah dielu-elukan persamaan gender itu perlu, untuk memperjuangkan
hak-hak dan kewajiban sebagai laki-laki dan perempuan. Karena memang kasus KDRT
( Kekerasan Dalam Rumah Tangga ) adalah korban utamanya perempuan. Dengan
demikian hal ini yang menurut saya melahirkan pengertian yang salah kaprah di
masyarakat awam. Dimana perempuan harus berteriak ngotot di depan suaminya
untuk mempertahankan karirnya yang selama ini dibangun. Sedangkan sang suami
merasa memiliki otoritas akan berusaha meminta istrinya berhenti bekerja agar
bisa fokus mengurus rumah tangga. Dengan catatan sang suami sudah merasa mampu
memenuhi kebutuhan perekonomian rumah tangga. Bagaimanapun juga peran seorang
perempuan memang sangat dibutuhkan untuk menjaga keutuhan rumah tangga. Dimana
seorang perempuan yang harus berjuang di ujung tombak rumah tangga harus mampu
memanage semua kebutuhan lahiriah maupun kebutuhan emosional keluarga (suami
dan anak). Ibaratnya kemanapun seluruh penghuni menapakkan kaki, mereka tahu
bahwa ada rumah yang teduh untuk membuatnya kembali. Namun jika perempuan tidak
mampu memainkan perannya sebagai seorang perempuan secara emosionalnya, iya
jangan pernah disalahkan jika rumah serasa neraka yang harus dijauhi. Itu
mengapa perempuan diciptakan dengan kelemahan fisik dan kelemahlembutan
hatinya, namun memiliki keteguhan yang kuat luar biasa. Hal inilah yang perlu
disyukuri. Dan bukankah Tuhan telah meletakan diri perempuan dengan derajat
yang tinggi ?. Oke, pada dasarnya sependek pengetahuan saya, urusan inipun
sebenarnya adalah tugas dan tanggungjawab laki-laki. Namun gals, bukankah
perempuan juga diberi keleluasaan oleh Allah untuk beribadah dengan membantu
meringankan tanggungjawab suami ? Apakah salah jika berbagi tugas. Toh imbalan
yang didapatkan adalah berlipat ganda dari Allah.
Namun
demikian, pada kasus yang lainnya. Dimana para laki-laki menggunakan hak
otoritasnya dan kemudian mengalahkan ego-nya sehingga menjadikan dirinya
manusia yang egois, itu akan menjadi kasus yang berbeda. Dalam kasus yang
pernah saya temui. Dimana kapasitas seorang perempuan lebih tinggi dari
laki-laki. Dimana kapasitas tersebut tidak hanya dalam kapasitas finansial
namun juga dari segi pendidikan, karir dan pola fikir. Mungkin jika perempuan yang
kuat dan luar biasa dia tetap akan bisa menempatkan diri sebagai perempuan
dengan tetap menghormati dan mengharagai segala hal dari laki-laki tersebut.
Namun sang laki-laki berbuat hal yang sebaliknya ? Disaat dia sudah mendapatkan
perempuan sedemikian rupa, dan kemudian dia menikmati hidup dengan tidak
berusaha memenuhi kewajibannya sebagai laki-laki dalam memberi nafkah lahir,
lantas dimana letak cinta yang dulu dielu-elukan ? Dia merasa memiliki kuasa
sebagai laki-laki. Sehingga dia bebas berbuat sesuka hatinya dan memaksa
istrinya nurut dan memenuhi perintahnya. Lantas kenapa dulu dia tidak mencari
pembantu saja ? Mengapa harus mencari istri ? Atau jika rasa gengsinya telah keluar dan
kemudian dia memperlakukan perempuan semena-mena sehingga kehilangan akal
sehatnya. Dia merasa kekurangannya adalah suatu hal yang fatal baginya karena
dia harus terus “merasa” kalah saat diskusi yang berujung pada perdebatan dan
kemudian pertengkaran. Mungkin ini tidak akan murni disebabkan oleh itu saja.
Namun manusia sebagai makhluk sosial tentunya tidak akan terlepas dari berbagai
permasalahan yang kemudian kesemuanya akan saling mempengaruhi satu dengan yang
lainnya. Nah, jika hubungan tersbut diawali dengan kata cinta, lantas dimanakah
cinta berada disaat adu saling mencakar terjadi ? Sekali lagi hubungan yang
paling kompleks di dunia ini adalah hubungan manusia spesifiknya dua manusia
lawan jenis yang saling bertemu, tertarik dan mengungkapkan kata cinta.
Melihat
kasus-kasus tersebut sebenarnya adalah hal yang sangat simpel disaat otak kita
sedang sehat. Namun terjadi sebaliknya ketika saat manusia sedang “gila” ( red
: keadaan marah ). Penyelesaian kasus tersebut adalah saling mengerti dan
saling memahami dan kemudian menghidupkan lagi cinta pada masa remaja yang mungkin
telah mulai usang.
Pabelan,
25-3-2016 – 12:30 AM