Kamis, 24 Maret 2016

Karena Laki-Laki Memiliki Otoritas

Menurut saya hubungan yang paling kompleks adalah hubungan antara laki-laki dan perempuan. Bukan mereka sebagai saudara atau sebagai ayah atau ibu. Namun hubungan kompleks tersebut adalah hubungan yang memang melibatkan lebih banyak perasaan dan otoritasi akal sehat. Mengapa hal ini saya anggap paling kompleks ? Alasannya sangat sederhana saja, karena mereka itu adalah dua insan yang tidak saling mengenal dan kemudian bertemu, saling tertarik, saling mengungkap saling berbagi dan bahkan saling mencakar kemudian. Peran perasaan sangat luar biasa hebatnya sehingga mampu merubah seseorang yang awalnya bukan apa-apa menjadi apa-apa dan bukan siapa-siapa menjadi siapa-siapa. Berbeda dengan hubungan keluarga atau pertemanan yang mungkin tidak begitu dahsyatnya mempengaruhi diri sendiri dan mungkin semuanya akan berjalan flat saja. Dan bahkan tanpa memiliki rasa emosional tinggi sehingga semua berjalan berdasarkan hak dan kewajiban saja. Namun ini hanya sebagian saja, tetap saja ada banyak keluarga yang tetap menomor satukan rasa emosional dalam hubungan sehari-hari namun tetap tidak sedahsyat dengan hubungan lawan jenis.
Katakanlah seorang anak yang memberi syarat kepada Ayahnya untuk membelikan sepeda baru jika dia mampu mendapatkan juara pertama di kelasnya. Atau seorang adik yang berjanji kepada kakaknya untuk tidak bilang ke Ayahnya saat Kakaknya sedang bolos sekolah asal si adik dibelikan jajan. Semua masih tentang syarat. Namun bagaimana dengan hubungan tanpa syarat ? Sebuah hubungan yang kata “mereka” adalah cinta. Dimana kata “mereka” juga adalah sebuah perasaan saling tertarik dan kemudian mampu memberikan segala bentuk pengorbanan tanpa meminta kembalian atau meminta suatu balasan. Saya sendiri tidak pernah bahkan belum memahami apa arti cinta yang sesungguhnya. Ini bukan karena saya adalah orang-orang yang juga menentang sebuah hubungan cinta antara laki-laki dan perempuan. Saya adalah wanita normal yang juga memiliki rasa tertarik dengan lawan jenis. Dan berdasarkan pengalaman pribadi maupun berdasarkan observasi saya terhadap lingkungan sekitar, satu kata yang memiliki sejuta kekuatan ini hanya dimiliki oleh mereka yang masih berada di usia remaja. Bukan berarti mereka yang dewasa tidak. Namun konteks cinta bagi orang dewasa adalah lebih luas, tidak sesederhana dengan apa yang kita saksikan di drama korea masa kini atau di film india dengan nangis bumbai di masa lalu.
Semakin dewasa komplkesitas hubungan laki-laki dan perempuan akan semakin lebih tinggi lagi. Jika memang cinta terhadap pasangan dianggap memiliki kekuatan dahsyat dan memang tanpa syarat. Namun bagaimana dengan perceraian ? bagaimana dengan sikap saling mencakar bagi sepasang merpati ? Mengapa harus ada perseliingkuhan ? mengapa harus ada rasa kejenuhan ? Oke well, menurut saya disini bukan cinta yang menjadi masalah. Namun faktor X dan X lainnya yang pasti menjadi penunjang terjadinya hal-hal demikian.
Kembali ke judul tentang otoritas laki-laki sebagai seorang pemimpin atau seorang yang kuat. Saya sendiri kurang begitu memahami tentang paham HAM dalam persepektif laki-laki dan perempuan yang pada akhirnya akan melahirkan sebuah paham persamaan gender. Saya bukan orang yang agamis. Pengetahuan saya tehadap agama juga sangat cetek sebenarnya. Namun saya menulis ini karena saya ingin mengetahui lebih banyak apa opini orang lain. Di satu sisi pada saat ini saya memiliki opini sedemikian rupa yang kemudian masih akan saya pegang sampai betul-betul meyakini sesuatu tersebut dan akan menjadi prinsip saya.
Seperti yang telah dielu-elukan persamaan gender itu perlu, untuk memperjuangkan hak-hak dan kewajiban sebagai laki-laki dan perempuan. Karena memang kasus KDRT ( Kekerasan Dalam Rumah Tangga ) adalah korban utamanya perempuan. Dengan demikian hal ini yang menurut saya melahirkan pengertian yang salah kaprah di masyarakat awam. Dimana perempuan harus berteriak ngotot di depan suaminya untuk mempertahankan karirnya yang selama ini dibangun. Sedangkan sang suami merasa memiliki otoritas akan berusaha meminta istrinya berhenti bekerja agar bisa fokus mengurus rumah tangga. Dengan catatan sang suami sudah merasa mampu memenuhi kebutuhan perekonomian rumah tangga. Bagaimanapun juga peran seorang perempuan memang sangat dibutuhkan untuk menjaga keutuhan rumah tangga. Dimana seorang perempuan yang harus berjuang di ujung tombak rumah tangga harus mampu memanage semua kebutuhan lahiriah maupun kebutuhan emosional keluarga (suami dan anak). Ibaratnya kemanapun seluruh penghuni menapakkan kaki, mereka tahu bahwa ada rumah yang teduh untuk membuatnya kembali. Namun jika perempuan tidak mampu memainkan perannya sebagai seorang perempuan secara emosionalnya, iya jangan pernah disalahkan jika rumah serasa neraka yang harus dijauhi. Itu mengapa perempuan diciptakan dengan kelemahan fisik dan kelemahlembutan hatinya, namun memiliki keteguhan yang kuat luar biasa. Hal inilah yang perlu disyukuri. Dan bukankah Tuhan telah meletakan diri perempuan dengan derajat yang tinggi ?. Oke, pada dasarnya sependek pengetahuan saya, urusan inipun sebenarnya adalah tugas dan tanggungjawab laki-laki. Namun gals, bukankah perempuan juga diberi keleluasaan oleh Allah untuk beribadah dengan membantu meringankan tanggungjawab suami ? Apakah salah jika berbagi tugas. Toh imbalan yang didapatkan adalah berlipat ganda dari Allah.
Namun demikian, pada kasus yang lainnya. Dimana para laki-laki menggunakan hak otoritasnya dan kemudian mengalahkan ego-nya sehingga menjadikan dirinya manusia yang egois, itu akan menjadi kasus yang berbeda. Dalam kasus yang pernah saya temui. Dimana kapasitas seorang perempuan lebih tinggi dari laki-laki. Dimana kapasitas tersebut tidak hanya dalam kapasitas finansial namun juga dari segi pendidikan, karir dan pola fikir. Mungkin jika perempuan yang kuat dan luar biasa dia tetap akan bisa menempatkan diri sebagai perempuan dengan tetap menghormati dan mengharagai segala hal dari laki-laki tersebut. Namun sang laki-laki berbuat hal yang sebaliknya ? Disaat dia sudah mendapatkan perempuan sedemikian rupa, dan kemudian dia menikmati hidup dengan tidak berusaha memenuhi kewajibannya sebagai laki-laki dalam memberi nafkah lahir, lantas dimana letak cinta yang dulu dielu-elukan ? Dia merasa memiliki kuasa sebagai laki-laki. Sehingga dia bebas berbuat sesuka hatinya dan memaksa istrinya nurut dan memenuhi perintahnya. Lantas kenapa dulu dia tidak mencari pembantu saja ? Mengapa harus mencari istri ?  Atau jika rasa gengsinya telah keluar dan kemudian dia memperlakukan perempuan semena-mena sehingga kehilangan akal sehatnya. Dia merasa kekurangannya adalah suatu hal yang fatal baginya karena dia harus terus “merasa” kalah saat diskusi yang berujung pada perdebatan dan kemudian pertengkaran. Mungkin ini tidak akan murni disebabkan oleh itu saja. Namun manusia sebagai makhluk sosial tentunya tidak akan terlepas dari berbagai permasalahan yang kemudian kesemuanya akan saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya. Nah, jika hubungan tersbut diawali dengan kata cinta, lantas dimanakah cinta berada disaat adu saling mencakar terjadi ? Sekali lagi hubungan yang paling kompleks di dunia ini adalah hubungan manusia spesifiknya dua manusia lawan jenis yang saling bertemu, tertarik dan mengungkapkan kata cinta.
Melihat kasus-kasus tersebut sebenarnya adalah hal yang sangat simpel disaat otak kita sedang sehat. Namun terjadi sebaliknya ketika saat manusia sedang “gila” ( red : keadaan marah ). Penyelesaian kasus tersebut adalah saling mengerti dan saling memahami dan kemudian menghidupkan lagi cinta pada masa remaja yang mungkin telah mulai usang.

Pabelan, 25-3-2016 – 12:30 AM