Narimo ing pandum atau biasanya orang jawa mengejanya lebih ringkas lagi "Nrimo ing pandum". Tiga suku kata yang menjadi sebuah mantra jitu bagi orang jawa untuk mengingatkan diri akan kemurahan hati Tuhan dalam setiap pemberiannya. Maksudnya adalah ikhlas dengan segala pemberiannya. Setelah pindah kerja di Solo, saya bertemu dengan orang-orang yang berkepribadian jawa solo. Dimana kepribadian tersebut memilki kontradiksi dengan masyarakat di sekitar saya sebelumnya yakni Jawa Timur. Iseng saya berdiskusi dengan senior di tempat kerja tentang pengertian kalimat narimo ing pandum. Bahkan saya juga googling untuk mendapatkan banyak input-an tentang kalimat tersebut. Tersebut saya menyimpulkan bahwa narimo ing pandum memiliki arti lebih mengarah pada kesyukuran pada Tuhan yang telah memberikan jalan kehidupan. Apapun jalannya, namun bukan berarti tidak melakukan apa-apa padahal bisa jika berusaha.
Tapi entah mengapa saya yang notabene orang jawa orang asli jawa yang dibesarkan di lingkungan jawa juga, mulai merasa tidak sreg dengan 3 kata yang menjadi satu kalimat mantra jawa yang mujarab tersebut. Bukan perkara saya tidak cinta dengan budaya orang jawa atau saya tidak bisa menerima kalimat mantra yang penuh dengan nasihat panjang ini. Tapi lebih ke sikap berontak saya dengan kenyataan yang ada di sekitar saya. Saya tidak tahu itu sikap berontak atau memang justru saya yang tidak bisa narimo ing pandum ? Yang pasti, kalimat inilah yang menurut saya telah membantu negeri ini manjadi negeri yang semakin terpuruk dan terperosok ke jurang.
Saya terlahir di salah satu desa di Kabupaten Ponorogo yang tidak pernah mendapat perhatian lebih dari pemerintahan. Bahkan saya sendiri tidak begitu yakin apakah perangkat desa saya memiliki semangat juang dan dedikasi tinggi untuk membangun desa dan memajukan kemakmuran masyarakatnya. (Karena saya belum pernah mendengar bahwa perangkat desa memiliki program menarik yang mengacu pada peningkatan kapasitas dan perekonomian pada masyarakat desa). Berbicara tentang kemakmuran maka kita tidak akan terlepas dari kata perekonomian. Perekonomian tidak akan terlepas dari pendidikan. Pendidikan yang saya makasudkan disini bukanlah pendidikan formal seperti pada umumnya orang memberikan value. Namun lebih ke pendidikan untuk mengarahkan masyarakat berfikir lebih jauh ke depannya, sebut saja pemberdayaan perekonomian dan lain sebagainya dimana melalui pemberdayaan tersebut akan memberikan jalan keluar bagi masyarakat untuk mengangkat perekonomian rumah tangga mereka. Namun pada kenyataannya semua itu hanya menjadi bayangan saya sendiri yang saya tidak tahu kapan hal tersebut akan terjadi. Dari kejadian tersebut saya semakin menyalahkan kalimat "narimo ing pandum". Karena kalimat tersebutlah yang telah dimanfaatkan untuk menjadi tameng persembunyian orang-orang yang malas.
Saat saya mulai melakukan penyuluhan di tetangga sekitar tentang pola fikir mereka mengenai peningkatan perekonomian masayarakat, mereka hanya menjawab "begini saja sudah enak, narimo ing pandum" atau jawaban lainnya "hallah ribet mbak, begini saja nrimo mbak", atau jawaban lainnya "itu nanti akan langsung dapat bantuan atau gimana mbak ?" begitu dijelaskan tentang pendidikan pemberdayaan ekonomi mikro secara sekilas sedikit sekali bagi mereka yang memberi respon positif. Kebanyakan dari mereka masih tetap asyik dengan kesantaiannya dan belum berani untuk keluar dari zona nyamannya. Saya cukup terpaku dengan kenyataan di masyarakat saya, dan saya yakin sekali hal ini tidak hanya terjadi di daerah tempat saya saja. Lingkungan yang nyaman telah membentuk kepribadian mereka menjadi seorang yang pecundang yang bersembunyi dibalik kata-kata narimo ing pandum. Bagi saya demikian adalah pengkhianatan terhadap diri sendiri, keluarga dan juga para sesepuh yang telah memberikan ajaran kaliamat tersebut yang sebenarnya memiliki kandungan sangat positif.