Rabu, 05 November 2014

Organisasi dan Generasi

Coret-coret curhat,
Berawal dari seorang teman yang mengirim pesan melalui aplikasi pribadi whosap bercerita tentang kegundahannya yang mulai merasuki jiwanya. Kegundahan itu berawal dari masa kuliahnya yang sudah hampir melebihi masa limited tapi belum juga kelar bahkan masih harus masuk kuliah di weekdays demi 11 SKS nya. Kemudian menurut dia bercerita tentang beberapa masalah yang sedang dihadapinya yang menurut dia menjadi penghalang untuk segera menyelesaikan masa study itu.  Dari beberapa yang dia point-kan itu salah satunya disebabkan karena rasa tanggungjawab nya ke organisasi. Dan tentunya disebabkan karena pasangan juga menjadi nomor urut juga :D hehehe Intermezzo-lah. Dari saya pribadi hanya ingin sedikit berbagi saya tentang penyebab molor-nya waktu lulus kuliah karena Organisasi.

menjadi teringat saat dulu detik-detik masa akhir saya. Saya pun sudah mulai enggan untuk menyelesaikan skripsi saya, bukan karena saya malas atau apa, karena saya bisa dibilang all out banget buat menyelesaikan skripsi dengan cepat. Meski bukan tercepat, tapi 3 bulan saya kebut skripsi dan itu saya harus bolak-balik ke kota sebelah untuk mencari data. Jarak tempuh kota saya ke kota sebelah ini kurang lebih 2 jam menggunakan motor, dan 3 jam ke sekitar lokasi penelitian. Selama itu pula 3 kotak ruangan yang menjadi basedcamp organisasi yang menaungi saya menjadi rumah utama saya. Meski rumah saya tidak jauh dari kampus, tapi saya lebih merasa nyaman saja ketika saya berada diantara saudara-saudara se-iman. Se-iman dalam hobby maksudnya. :) Namun, justru disini gejolak batin saya mulai terjadi. Banyak hal yang telah mereka beri ke saya, tapi sya merasa menjadi seorang yang tidak berguna karena tidak mampu memberikan mereka sesuatu.  Saya bukan seorang organisator yang baik. Belum bisa menjadi contoh yang baik pula untuk mereka. Sekian perjalanan akhirnya kembali lagi hadir dalam bayangan saya. Saat-saat saya tidak bertanggungjawab, saat-saat emosi saya meluap, saat-saat saya melakukan berbagai kesalahaan. Saya tersadar, saya telah meninggalkan banyak keburukan. Saya merasa ada beban moral dalam diri saya. Tapi kesempatan itu seakan-akan tidak mungkin lagi aku miliki. Disisi lain, tanggungjawab lain telah menanti saya, tanggungjawab pada orang tua dan keluarga tentunya. Jauh dari pada itu tanggungjawab saya terhadap generasi saya nanti. Akhirnya saya memutuskan untuk menersukan langkah tanpa bisa memperbaiki kesalahan saya.

Begitupun yang diceritakan oleh teman saya, saat dia mulai membicarakan enggan untuk meninggalkan organisasi dengan alasan merasa genarasi berikutnya belum mumpuni. Saya pribadi merasa dia belum ada keikhlasan untuk terus melangkah lebih jauh. Entah ini dia masih in the box of comfort dan belum siap untuk out of box atau dia memang betul-betul belum bisa percaya kepada generasi berikutnya. Jika memang betul alasan satu-satunya adalah pernyataan yang kedua, saya turut prihatin. ketika saya tanya apa alasan dia mengatakan hal tersebut. Alasannya adalah "karena generasi berikutnya sangat sulit untuk diajak belajar", saya termangu sejenak. Berfikir dan berflash-back lagi. Sejenak dan sejenak. Teringat pula percakapan dengan teman saat saya berada di RSUD Cepu, teman yang baru kenal dengan pola fikirannya yang luar biasa. Berfikiran luas dan bebas. Tidak konservatif sesuai dengan jalan tol yang telah dibuat oleh generasi-generasi sebelumnya. Disisi ini, saya sangat tau kurangnya jam terbang saya untuk mengenal teman-teman lain dari luar, membuat saya sangat tertinggal jauh dari organisasi-organisasi lain yang se-iman (Red-Hobby). Sedikit mengambil opini dari teman di Cepu tersebut, saya mulai mengetik jawaban sebagai solusi untuk teman saya melalui whosap. singkat dan sedikit tambahan bumbu cabe tentunya "Biarkan mereka memilih warna mereka sendiri untuk melanjutkan organisasi, jangan men-judge dari satu sisi saja. Apalagi itu sisi kamu". Kemudian saya lanjutkan dengan tambahan cabe plus merica "Jika mereka tidak mau belajar, itu bukan karena mereka yang salah. Tapi karena kamu tidak tau cara yang tepat untuk mengajak mereka belajar". begitulah yang saya rasakan juga di tempat saya tentunya. Zaman setiap generasi itu sudah berbeda, mungkin masa kecil saya bermain masak-masakan, petak umpet ataupun kelereng ini masih menjadi permainan yang sangat asyik, tapi zaman mereka mungkin game dan ps. Jadi bukan lagi saatnya kita menjejali mereka metode-metode jadul yang belum di-upgrade. Jikalau, metode jadul tersebut masih bagus, tidak ada salahnya metode tersebut tetap dilanjutkan mungkin dipenetrasikan dengan metode terbaru juga. Dalam organisasi kita bukan bermain dengan robot, tapi kita bermain dengan manusia. Butuh pendekatan secara emosional juga didalamnya. Untuk mengerti dan memahami.

Semoga triple "C" ini bisa bermanfaat bagi pembaca. sederhana saja, sekelumit tulisan dari hati. 

--CL--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar