Jumat, 29 Juli 2016

Dibalik Berita Ibu Sri Mulyani

Saya menulis artikel ini setelah saya membaca artikel-artikel maupun media massa di internet maupun koran. Setelah malam hari mendapatkan kabar dari group WA teman SMA yang bekerja di kemenkeu bahwa esok ( 28 Juli 2016 ) reshuffle para menteri salah satunya adalah Ibu Sri Mulyani telah ditarik kembali ke pangkuan Ibu pertiwi. Saya semakin aktif untuk mencari informasi. Dan ternyata Bapak Muhadjir Effendy juga akan dilantik untuk mengisi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menggantikan Bapak Anies Baswedan. Ada banyak hal yang saat ini mengisi otak saya untuk beropini, terutama sebuah kisah dibalik masuknya Ibu Sri Mulyani.

Saya bukan ahli politik. Saya hanya seorang karyawan di External Public Relations di salah satu hotel berbintang di Solo. Namun sejak tidak tahu kapan tepatnya saya suka mencari informasi tentang perpolitikan. Seperti halnya tentang berita di media massa, cetak, elektronik maupun visual sudah sangat banyak yang mengupdate informasi mulai akan ditariknya Ibu Sri Mulyani ke Indonesia kembali. Sontak hal terssebut semakin membuat Indonesia berbahagia. Banyak sekali yang menulis opini positif terhadap rencana ini, dan kemudian Indonesia bersuka cita karena hal tersebut telah terwujud. Namun belum puas Indonesia mulai memiliki harapan, kembali Indonesia harus menelan racun pahit dalam dirinya. Iya ternyata mereka memanfaatkan PR sebagai fungsi pisau tajamnya di dua matanya. Dibalik itu semua ternyata Wiranto pun juga diangkat menjadi Menteri Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan ( Menko Polhukam ). Hal ini sama sekali tidak terendus oleh media. Misalkan terendus mungkin juga tidak dipublikasi sehingga berita tentang diangkatnya Wiranto. 

Pada awalnya saya tidak begitu peduli dengan Wiranto, setelah saya melakukan riset kecil-kecilan, ternyata banyak sekali media yang mengangkat namanya sebagai salah seroang yang seharusnya mempertanggungjawabkan tragedi Sabtu Kelabu pada tahun 1996, juga hilangnya para aktivis, serta Tragedi Pancasila dsbg. Meski hal tersebut sudah menjadi sebuah rahasia umum namun tidak ada yang mampu membuktikan tentang itu semua, sehingga dia pun masih mampu berkeliaran. Fatalnya, saat ini dia harus duduk di kementerian di posisi yang sangat strategis untuk melakukan kuliner politik di dalamnya. Tidak heran jika pada akhirnya banyak sekali masyarakat Indonesia yang berteriak memekik dengan hadirnya dia pada dunia perpolitikan. 

Saya pribadi masih belum mampu mencerna menggunakan logika sehat saya saat pemilihan presiden, Wiranto duduk sebagai rival Jokowi untuk memperebutkan kursi kepresidenan, namun setelah berjalannya wkatu roda pemerintahan dibawah kepemimpinan Jokowi, Wiranto justru menjadi koalisi. Meskipun hal seperti ini menjadi sebuah maklum politik bagi masyarakat Indonesia, namun logika saya masih belum mampu mencernanya. Maklum dalam artian dengan kondisi politik negeri ini, dimana semuanya menjadi abu-abu tidak ada lagi yang hitam ataupun putih. Dimana semuanya semakin rancu dengan bendera masing-masing organisasi dan melupakan tujuan utama sebagai pemimpin. Masih terlalu banyak hal yang harus saya pelajari dan buku yang saya baca untuk meningkatkan kapasitas pribadi saya. Tulisan ini saya tulis hanya untuk meluapkan apa yang terlintas dalam benak saya. Demikian pun semakin saya mengerti betapa saya masih sangat bodoh, dan juga semakin faham mengapa rasulullah menganjurkan ummatnya untuk belajar ilmu politik yang pada masanya disebut sebagai ilmu shiyasah. 

Salam damai untuk Negeri tercinta kita Indonesia.

Selasa, 10 Mei 2016

Narimo Ing Pandum

Narimo ing pandum atau biasanya orang jawa mengejanya lebih ringkas lagi "Nrimo ing pandum". Tiga suku kata yang menjadi sebuah mantra jitu bagi orang jawa untuk mengingatkan diri akan kemurahan hati Tuhan dalam setiap pemberiannya. Maksudnya adalah ikhlas dengan segala pemberiannya. Setelah pindah kerja di Solo, saya bertemu dengan orang-orang yang berkepribadian jawa solo. Dimana kepribadian tersebut memilki kontradiksi dengan masyarakat di sekitar saya sebelumnya yakni Jawa Timur. Iseng saya berdiskusi dengan senior di tempat kerja tentang pengertian kalimat narimo ing pandum. Bahkan saya juga googling untuk mendapatkan banyak input-an tentang kalimat tersebut. Tersebut saya menyimpulkan bahwa narimo ing pandum memiliki arti lebih mengarah pada kesyukuran pada Tuhan yang telah memberikan jalan kehidupan. Apapun jalannya, namun bukan berarti tidak melakukan apa-apa padahal bisa jika berusaha.

Tapi entah mengapa saya yang notabene orang jawa orang asli jawa yang dibesarkan di lingkungan jawa juga, mulai merasa tidak sreg dengan 3 kata yang menjadi satu kalimat mantra jawa yang mujarab tersebut. Bukan perkara saya tidak cinta dengan budaya orang jawa atau saya tidak bisa menerima kalimat mantra yang penuh dengan nasihat panjang ini. Tapi lebih ke sikap berontak saya dengan kenyataan yang ada di sekitar saya. Saya tidak tahu itu sikap berontak atau memang justru saya yang tidak bisa narimo ing pandum ? Yang pasti, kalimat inilah yang menurut saya telah membantu negeri ini manjadi negeri yang semakin terpuruk dan terperosok ke jurang. 

Saya terlahir di salah satu desa di Kabupaten Ponorogo yang tidak pernah mendapat perhatian lebih dari pemerintahan. Bahkan saya sendiri tidak begitu yakin apakah perangkat desa saya memiliki semangat juang dan dedikasi tinggi untuk membangun desa dan memajukan kemakmuran masyarakatnya.  (Karena saya belum pernah mendengar bahwa perangkat desa memiliki program menarik yang mengacu pada peningkatan kapasitas dan perekonomian pada masyarakat desa). Berbicara tentang kemakmuran maka kita tidak akan terlepas dari kata perekonomian. Perekonomian tidak akan terlepas dari pendidikan. Pendidikan yang saya makasudkan disini bukanlah pendidikan formal seperti pada umumnya orang memberikan value. Namun lebih ke pendidikan untuk mengarahkan masyarakat berfikir lebih jauh ke depannya, sebut saja pemberdayaan perekonomian dan lain sebagainya dimana melalui pemberdayaan tersebut akan memberikan jalan keluar bagi masyarakat untuk mengangkat perekonomian rumah tangga mereka. Namun pada kenyataannya semua itu hanya menjadi bayangan saya sendiri yang saya tidak tahu kapan hal tersebut akan terjadi. Dari kejadian tersebut saya semakin menyalahkan kalimat "narimo ing pandum". Karena kalimat tersebutlah yang telah dimanfaatkan untuk menjadi tameng persembunyian orang-orang yang malas. 

Saat saya mulai melakukan penyuluhan di tetangga sekitar tentang pola fikir mereka mengenai peningkatan perekonomian masayarakat, mereka hanya menjawab "begini saja sudah enak, narimo ing pandum" atau jawaban lainnya "hallah ribet mbak, begini saja nrimo mbak", atau jawaban lainnya "itu nanti akan langsung dapat bantuan atau gimana mbak ?" begitu dijelaskan tentang pendidikan pemberdayaan ekonomi mikro secara sekilas sedikit sekali bagi mereka yang memberi respon positif. Kebanyakan dari mereka masih tetap asyik dengan kesantaiannya dan belum berani untuk keluar dari zona nyamannya. Saya cukup terpaku dengan kenyataan di masyarakat saya, dan saya yakin sekali hal ini tidak hanya terjadi di daerah tempat saya saja. Lingkungan yang nyaman telah membentuk kepribadian mereka menjadi seorang yang pecundang yang bersembunyi dibalik kata-kata narimo ing pandum. Bagi saya demikian adalah pengkhianatan terhadap diri sendiri, keluarga dan juga para sesepuh yang telah memberikan ajaran kaliamat tersebut yang sebenarnya memiliki kandungan sangat positif.

Kamis, 24 Maret 2016

Karena Laki-Laki Memiliki Otoritas

Menurut saya hubungan yang paling kompleks adalah hubungan antara laki-laki dan perempuan. Bukan mereka sebagai saudara atau sebagai ayah atau ibu. Namun hubungan kompleks tersebut adalah hubungan yang memang melibatkan lebih banyak perasaan dan otoritasi akal sehat. Mengapa hal ini saya anggap paling kompleks ? Alasannya sangat sederhana saja, karena mereka itu adalah dua insan yang tidak saling mengenal dan kemudian bertemu, saling tertarik, saling mengungkap saling berbagi dan bahkan saling mencakar kemudian. Peran perasaan sangat luar biasa hebatnya sehingga mampu merubah seseorang yang awalnya bukan apa-apa menjadi apa-apa dan bukan siapa-siapa menjadi siapa-siapa. Berbeda dengan hubungan keluarga atau pertemanan yang mungkin tidak begitu dahsyatnya mempengaruhi diri sendiri dan mungkin semuanya akan berjalan flat saja. Dan bahkan tanpa memiliki rasa emosional tinggi sehingga semua berjalan berdasarkan hak dan kewajiban saja. Namun ini hanya sebagian saja, tetap saja ada banyak keluarga yang tetap menomor satukan rasa emosional dalam hubungan sehari-hari namun tetap tidak sedahsyat dengan hubungan lawan jenis.
Katakanlah seorang anak yang memberi syarat kepada Ayahnya untuk membelikan sepeda baru jika dia mampu mendapatkan juara pertama di kelasnya. Atau seorang adik yang berjanji kepada kakaknya untuk tidak bilang ke Ayahnya saat Kakaknya sedang bolos sekolah asal si adik dibelikan jajan. Semua masih tentang syarat. Namun bagaimana dengan hubungan tanpa syarat ? Sebuah hubungan yang kata “mereka” adalah cinta. Dimana kata “mereka” juga adalah sebuah perasaan saling tertarik dan kemudian mampu memberikan segala bentuk pengorbanan tanpa meminta kembalian atau meminta suatu balasan. Saya sendiri tidak pernah bahkan belum memahami apa arti cinta yang sesungguhnya. Ini bukan karena saya adalah orang-orang yang juga menentang sebuah hubungan cinta antara laki-laki dan perempuan. Saya adalah wanita normal yang juga memiliki rasa tertarik dengan lawan jenis. Dan berdasarkan pengalaman pribadi maupun berdasarkan observasi saya terhadap lingkungan sekitar, satu kata yang memiliki sejuta kekuatan ini hanya dimiliki oleh mereka yang masih berada di usia remaja. Bukan berarti mereka yang dewasa tidak. Namun konteks cinta bagi orang dewasa adalah lebih luas, tidak sesederhana dengan apa yang kita saksikan di drama korea masa kini atau di film india dengan nangis bumbai di masa lalu.
Semakin dewasa komplkesitas hubungan laki-laki dan perempuan akan semakin lebih tinggi lagi. Jika memang cinta terhadap pasangan dianggap memiliki kekuatan dahsyat dan memang tanpa syarat. Namun bagaimana dengan perceraian ? bagaimana dengan sikap saling mencakar bagi sepasang merpati ? Mengapa harus ada perseliingkuhan ? mengapa harus ada rasa kejenuhan ? Oke well, menurut saya disini bukan cinta yang menjadi masalah. Namun faktor X dan X lainnya yang pasti menjadi penunjang terjadinya hal-hal demikian.
Kembali ke judul tentang otoritas laki-laki sebagai seorang pemimpin atau seorang yang kuat. Saya sendiri kurang begitu memahami tentang paham HAM dalam persepektif laki-laki dan perempuan yang pada akhirnya akan melahirkan sebuah paham persamaan gender. Saya bukan orang yang agamis. Pengetahuan saya tehadap agama juga sangat cetek sebenarnya. Namun saya menulis ini karena saya ingin mengetahui lebih banyak apa opini orang lain. Di satu sisi pada saat ini saya memiliki opini sedemikian rupa yang kemudian masih akan saya pegang sampai betul-betul meyakini sesuatu tersebut dan akan menjadi prinsip saya.
Seperti yang telah dielu-elukan persamaan gender itu perlu, untuk memperjuangkan hak-hak dan kewajiban sebagai laki-laki dan perempuan. Karena memang kasus KDRT ( Kekerasan Dalam Rumah Tangga ) adalah korban utamanya perempuan. Dengan demikian hal ini yang menurut saya melahirkan pengertian yang salah kaprah di masyarakat awam. Dimana perempuan harus berteriak ngotot di depan suaminya untuk mempertahankan karirnya yang selama ini dibangun. Sedangkan sang suami merasa memiliki otoritas akan berusaha meminta istrinya berhenti bekerja agar bisa fokus mengurus rumah tangga. Dengan catatan sang suami sudah merasa mampu memenuhi kebutuhan perekonomian rumah tangga. Bagaimanapun juga peran seorang perempuan memang sangat dibutuhkan untuk menjaga keutuhan rumah tangga. Dimana seorang perempuan yang harus berjuang di ujung tombak rumah tangga harus mampu memanage semua kebutuhan lahiriah maupun kebutuhan emosional keluarga (suami dan anak). Ibaratnya kemanapun seluruh penghuni menapakkan kaki, mereka tahu bahwa ada rumah yang teduh untuk membuatnya kembali. Namun jika perempuan tidak mampu memainkan perannya sebagai seorang perempuan secara emosionalnya, iya jangan pernah disalahkan jika rumah serasa neraka yang harus dijauhi. Itu mengapa perempuan diciptakan dengan kelemahan fisik dan kelemahlembutan hatinya, namun memiliki keteguhan yang kuat luar biasa. Hal inilah yang perlu disyukuri. Dan bukankah Tuhan telah meletakan diri perempuan dengan derajat yang tinggi ?. Oke, pada dasarnya sependek pengetahuan saya, urusan inipun sebenarnya adalah tugas dan tanggungjawab laki-laki. Namun gals, bukankah perempuan juga diberi keleluasaan oleh Allah untuk beribadah dengan membantu meringankan tanggungjawab suami ? Apakah salah jika berbagi tugas. Toh imbalan yang didapatkan adalah berlipat ganda dari Allah.
Namun demikian, pada kasus yang lainnya. Dimana para laki-laki menggunakan hak otoritasnya dan kemudian mengalahkan ego-nya sehingga menjadikan dirinya manusia yang egois, itu akan menjadi kasus yang berbeda. Dalam kasus yang pernah saya temui. Dimana kapasitas seorang perempuan lebih tinggi dari laki-laki. Dimana kapasitas tersebut tidak hanya dalam kapasitas finansial namun juga dari segi pendidikan, karir dan pola fikir. Mungkin jika perempuan yang kuat dan luar biasa dia tetap akan bisa menempatkan diri sebagai perempuan dengan tetap menghormati dan mengharagai segala hal dari laki-laki tersebut. Namun sang laki-laki berbuat hal yang sebaliknya ? Disaat dia sudah mendapatkan perempuan sedemikian rupa, dan kemudian dia menikmati hidup dengan tidak berusaha memenuhi kewajibannya sebagai laki-laki dalam memberi nafkah lahir, lantas dimana letak cinta yang dulu dielu-elukan ? Dia merasa memiliki kuasa sebagai laki-laki. Sehingga dia bebas berbuat sesuka hatinya dan memaksa istrinya nurut dan memenuhi perintahnya. Lantas kenapa dulu dia tidak mencari pembantu saja ? Mengapa harus mencari istri ?  Atau jika rasa gengsinya telah keluar dan kemudian dia memperlakukan perempuan semena-mena sehingga kehilangan akal sehatnya. Dia merasa kekurangannya adalah suatu hal yang fatal baginya karena dia harus terus “merasa” kalah saat diskusi yang berujung pada perdebatan dan kemudian pertengkaran. Mungkin ini tidak akan murni disebabkan oleh itu saja. Namun manusia sebagai makhluk sosial tentunya tidak akan terlepas dari berbagai permasalahan yang kemudian kesemuanya akan saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya. Nah, jika hubungan tersbut diawali dengan kata cinta, lantas dimanakah cinta berada disaat adu saling mencakar terjadi ? Sekali lagi hubungan yang paling kompleks di dunia ini adalah hubungan manusia spesifiknya dua manusia lawan jenis yang saling bertemu, tertarik dan mengungkapkan kata cinta.
Melihat kasus-kasus tersebut sebenarnya adalah hal yang sangat simpel disaat otak kita sedang sehat. Namun terjadi sebaliknya ketika saat manusia sedang “gila” ( red : keadaan marah ). Penyelesaian kasus tersebut adalah saling mengerti dan saling memahami dan kemudian menghidupkan lagi cinta pada masa remaja yang mungkin telah mulai usang.

Pabelan, 25-3-2016 – 12:30 AM