Saya menulis artikel ini setelah saya membaca artikel-artikel maupun media massa di internet maupun koran. Setelah malam hari mendapatkan kabar dari group WA teman SMA yang bekerja di kemenkeu bahwa esok ( 28 Juli 2016 ) reshuffle para menteri salah satunya adalah Ibu Sri Mulyani telah ditarik kembali ke pangkuan Ibu pertiwi. Saya semakin aktif untuk mencari informasi. Dan ternyata Bapak Muhadjir Effendy juga akan dilantik untuk mengisi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menggantikan Bapak Anies Baswedan. Ada banyak hal yang saat ini mengisi otak saya untuk beropini, terutama sebuah kisah dibalik masuknya Ibu Sri Mulyani.
Saya bukan ahli politik. Saya hanya seorang karyawan di External Public Relations di salah satu hotel berbintang di Solo. Namun sejak tidak tahu kapan tepatnya saya suka mencari informasi tentang perpolitikan. Seperti halnya tentang berita di media massa, cetak, elektronik maupun visual sudah sangat banyak yang mengupdate informasi mulai akan ditariknya Ibu Sri Mulyani ke Indonesia kembali. Sontak hal terssebut semakin membuat Indonesia berbahagia. Banyak sekali yang menulis opini positif terhadap rencana ini, dan kemudian Indonesia bersuka cita karena hal tersebut telah terwujud. Namun belum puas Indonesia mulai memiliki harapan, kembali Indonesia harus menelan racun pahit dalam dirinya. Iya ternyata mereka memanfaatkan PR sebagai fungsi pisau tajamnya di dua matanya. Dibalik itu semua ternyata Wiranto pun juga diangkat menjadi Menteri Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan ( Menko Polhukam ). Hal ini sama sekali tidak terendus oleh media. Misalkan terendus mungkin juga tidak dipublikasi sehingga berita tentang diangkatnya Wiranto.
Pada awalnya saya tidak begitu peduli dengan Wiranto, setelah saya melakukan riset kecil-kecilan, ternyata banyak sekali media yang mengangkat namanya sebagai salah seroang yang seharusnya mempertanggungjawabkan tragedi Sabtu Kelabu pada tahun 1996, juga hilangnya para aktivis, serta Tragedi Pancasila dsbg. Meski hal tersebut sudah menjadi sebuah rahasia umum namun tidak ada yang mampu membuktikan tentang itu semua, sehingga dia pun masih mampu berkeliaran. Fatalnya, saat ini dia harus duduk di kementerian di posisi yang sangat strategis untuk melakukan kuliner politik di dalamnya. Tidak heran jika pada akhirnya banyak sekali masyarakat Indonesia yang berteriak memekik dengan hadirnya dia pada dunia perpolitikan.
Saya pribadi masih belum mampu mencerna menggunakan logika sehat saya saat pemilihan presiden, Wiranto duduk sebagai rival Jokowi untuk memperebutkan kursi kepresidenan, namun setelah berjalannya wkatu roda pemerintahan dibawah kepemimpinan Jokowi, Wiranto justru menjadi koalisi. Meskipun hal seperti ini menjadi sebuah maklum politik bagi masyarakat Indonesia, namun logika saya masih belum mampu mencernanya. Maklum dalam artian dengan kondisi politik negeri ini, dimana semuanya menjadi abu-abu tidak ada lagi yang hitam ataupun putih. Dimana semuanya semakin rancu dengan bendera masing-masing organisasi dan melupakan tujuan utama sebagai pemimpin. Masih terlalu banyak hal yang harus saya pelajari dan buku yang saya baca untuk meningkatkan kapasitas pribadi saya. Tulisan ini saya tulis hanya untuk meluapkan apa yang terlintas dalam benak saya. Demikian pun semakin saya mengerti betapa saya masih sangat bodoh, dan juga semakin faham mengapa rasulullah menganjurkan ummatnya untuk belajar ilmu politik yang pada masanya disebut sebagai ilmu shiyasah.
Salam damai untuk Negeri tercinta kita Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar