Rabu, 26 Juni 2013

JTV Sebagai Media Informasi Budaya Yang Berprestasi Tapi Perlu Digarisbawahi



JTV merupakan salah satu sasiun televise local yang terletak di Kota Surabaya Jawa Timur. Yakni stasiun televise yang menggunakan bahasa suroboyoan sebagai ikon televise tersebut. Sebagai salah satu media massa elektronik yang semakin berkembang dan menjamur, JTV memilih program-program budaya sebagai content penyiarannya. Begitupun bahasa suroboyoan, tentunya menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Jawa Timur, khususnya daerah Ibu Kota Jawa Timur tersebut. Program-program budaya JTV seperti blakraan, seharusnya mendapatkan acungan jempol dari masyarakat. Karena di program ini, masyarakat akan mendapatkan berbagai informasi budaya dari program tersebut ditambah lagi dengan pengemasan acara yang menggunakan bahasa Suroboyoan. Disamping itu, presenter atau pembawa acara ( cak Eko Albaroyo ) yang aktif dan selalu humoris. Pengemasan program dengan sangat apik yang selalu menyertakan nara sumber dan opini-opini masyarakat memberikan berbagai persepsi terhadap audiens. Meskipun begitu, presenter tidak melulu berbicara secara langsung, namun didukung dengan pembacaan text secara narativ. Sehingga memberikan penjelasan yang lebih jelas terhadap audiens, dibandingkan sekedar perkataan presenter di saat berada di lapangan. Hal-hal tersebut tentunya memberikan nilai plus bagi JTV, karena secara tidak langsung audiens JTV merupakan masyarakat Jawa Timur sendiri dan yang terletak di daerah pinggiran. Dimana masyarakatnya adalah masyarakat kelas menengah ke bawah yang belum mendapatkan pendidikan yang layak untuk diajak berfikir secara jauh.
Berfikir secara jauh adalah, berfikir secara lebih mendalaam untuk mengkritisi segala kata demi kata yang tengah disampaikan oleh presenter JTV. Karena media massa bertugas untuk mencipatakan opini public, sehingga apa yang disampaikan oleh presenter melalui program-program televise akan menciptakan suatu opini public terhadap masyarakat, yang nantinya akan mempengaruhi fikiran dan perilaku tiap audiens. Tidak menutup kemungkinan, tiap program JTV memberikan pengaruh yang positif ataupun negative terhadap public atau masyarakat.
JTV yang merupakan singkatan dari Jawa Pos Media Televisi ini, satu-satunya televisi swasta yang tetap mempertahankan ikon bahasa daerahnya. Meskipun tidak semua program-programnya menggunakan bahasa suroboyoan, namun JTV yang memiliki slogan satus persen jatim JTV rek, ini selalu dikenal dan dikenang dengan bahasa suroboyoannya. Meskipun begitu, ada hal yang harus digarisbawahi oleh pihak JTV maupun pihak audiens dalam mengkonsumsi program-programnya. Meskipun banyak nilai plus dan mendapatkan acungan jempol untuk televise yang berumur muda ini, namun ada satu programnya yang sangat membuat masyarakat resah. Yakni pojok kampong. Hal ini sudah tidak asing lagi untuk dibahas. Banyak sekali blog ataupun suara-suara masyarakat yang dilontarkan melalui media massa. Namun, pihak JTV sendiri masih tetap mempertahankan bahasa suroboyoan yang sebenarnya tidak harus seperti itu dalam penayangannya. Maksudnya adalah, bahasa suroboyoan yang cenderung kasar, yang sebenarnya masih bisa menggunakan bahasa yang lebih halus dalam maknanya tapi tidak mengurangi branding-nya sebagai bahasa suroboyoan. Karena sebenarnya bahasa suroboyoan itu tidak melulu menggunakan bahasa yang kasar. Hanya aksen dan dialegnya saja yang kasar. Suatu missal kata “matek” seharusnya hal itu bisa menggunakan dengan bahasa yang lebih halus sperti “seda” atau “kapundut”. Hal ini sangat tidak mencerminakan budaya Indonesia yang selalu sopan dan selalu menjaga dan menghargai orang yang lebih tua. Contoh lain dan lebih ekstrim adalah kata “mbadhok” yang sebenarnya bisa dikatakan dengan kata “mangan” sama-sama kasar tapi lebih memliki kesan sopan. Kata-kata “mbadhok” biasa digunakan oleh para jalanan atau mereka yang memang terbiasa dengan hidup yang tidak teratur. Jika hal ini terus menerus dilanjutkan, bagaimana dengan nasib anak-anak yang menyaksikan tayangan tersbut. Yang nota bene memiliki kaarakter sangat labil dan mudah terpengaruh. Seharusnya dari pihak JTV berfikir sejauh itu, agar stasiun televise tetap menjalanakan kewajibannya, yakni pertanggungjawaban moral terhadap sikap penonton terhadap program-program yang disajikan.
Meskipun begitu, tidak pula yang sedikit untuk terus mendukung program ini dengan bahasa yang ada. Alas an mereka ini adalah budaya yang harus dilestarikan, ada juga yang mengatakan dialek yang lucu, membuat ketawa dan membuat kangen pemirsa untuk selalu mengikuti program ini. Namun, tidakkah mereka ingat bahwa banyak generasi bangsa yang belum siap untuk mengkonsumsi tayangan seperti itu. Meskipun tayangan pojok kampong ditayangkan pada jam-jam istirahat, yakni pukul 21.00 WIB dimana banyak anak sekolah yang sudah menuju ke tempat tidur, namun tidak sedikit pula anak-anak kecil yang masih membuka mata dan nimbrung menikmati pemberitaan pojok kampong yang vulgar. Pengaruhnya tentunya sangat luar biasa. Mereka yang sudah terlelap akan mem”beo” dari ucapan yang belum terlelap dan ikut nimbrung tadi. Sudah sangat jelas dan bisa dipastikan. Apalagi anak-anak ketika berada di lingkungan sekolah akan terlepas dari pengawasan orang tua. Hal ini tentunya akan menjadi racun yang secara perlahan akan membunuh pendidikan karakter anak-anak.
Banyak hal yang harus ditingkatkan rasa peduli masyarakat terhadap kemajuan dan keterlindungan budaya. Namun tidak boleh disampingkan unsure pendidikan akhlak atau pendidikan karakter yang positif agar tercipta sikap yang positif terhadap generasi penerus. Begitupula dengan media massa terutama televise, yang notabene menjadi suatu media massa yang terdekat dengan public. Dimana setiap kegiatan anak-anak yang tidak terlepas dari menonton televise, seharusnya menjadi catatan tersendiri bagi pelaku pers atau programmer televise. Bahwa tugas mereka tidak hanya menyajikan berbagai menu yang menarik untuk dikonsumsi dan menghasilkan banyak untung. Namun unsure pendidikan adalah suatu hal yang sangat penting untuk dipertimbangkan. Dengan begitu, televise akan menjadi suatu media yang sangat strategis untuk mendidik, mengajar, menghibur dan menginformasikan berbagaai hal ke khalayak. Jika semua itu telah terealisasi, maka tidak perlu lagi para orang tua untuk terlalu khawatir terhadap tayangan televise untuk ditonton buah hatinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar